← Kembali ke Informasi Terkini

Berita

“Apa itu Preklamsia”

Klaten, Selasa 19 September 2023, Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) menyelenggarakan penyuluhan kesehatan dengan tema “Apa itu Preklamsia”. Narasumber ibu Elistin Pristantina, AMKeb. Acara diselenggarakan di Instalasi Rawat Jalan Terpadu (IRJT) RSST. Preeklamsia adalah salah satu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah atau Hipertensi serta adanya protein yang berlebihan dalam urine. Kondisi ini kerap terjadi setelah usia kehamilan menginjak 20 minggu. Preeklampsia tidak hanya dapat terjadi dimasa kehamilan namun dalam masa persalinan, maupun setelah persalinan atau masa nifas. Pada Preeklamsia tidak terjadi kejang namun jika Hipertensi kehamilan diikuti kejang, maka disebut Eklamsia. Penyebab Hingga kini penyebab Preeklamsia belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, beberapa ahli menduga bahwa penyebab Preeklamsia adalah masalah perkembangan pada plasenta. Ibu hamil dengan Preeklamsia memiliki pembuluh darah yang tidak berfungsi normal, sehingga bentuknya lebih sempit dan merespon sinyal hormonal secara berbeda. Hasilnya, aliran darah yang masuk ke plasenta menjadi terbatas. Beberapa penyebab pembuluh darah tidak berfungsi dengan baik adalah sebagai berikut:
  • Kurangnya aliran darah menuju rahim
  • Faktor genetik
  • Kerusakan pada pembuluh darah
  • Masalah pada sistem imun tubuh
Faktor risiko
  • Kehamilan pertama
  • Memiliki riwayat Preeklamsia sebelumnya
  • Usia ibu hamil di atas 35 tahun
  • Hamil di usia lebih dari 40 tahun atau kurang dari 20 tahun
  • Obesitas
  • Hamil anak kembar
  • Hamil dengan jarak kurang dari dua tahun atau lebih dari 10 tahun dari kehamilan sebelumnya
  • Memiliki riwayat tekanan darah tinggi, Diabetes tipe 1 dan 2, Lupus, dan masalah ginjal
  • Gangguan autoimun
  • Kehamilan hasil dari inseminasi buatan atau bayi tabung
  • Faktor genetik
  • Gangguan pembuluh darah
Gejala Preeklamsia
  1. Tekanan Darah Tinggi
Tekanan darah tinggi merupakan gejala utama dari Preeklamsia. Tekanan darah meningkat yaitu lebih dari 140 / 90 mmHg. Meski tidak  mengalami Preeklamsia, tekanan darah tinggi pada ibu hamil cukup berbahaya sehingga perlu diatasi segera.
  1. Urine Mengandung Protein
Proteinuria merupakan gejala Preeklamsia berikutnya, yaitu kondisi di mana urine mengandung protein yang seharusnya hanya ada di dalam darah. Kondisi ini hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium.
  1. Edema Kaki
Edema kaki pada Preeklamsia terjadi karena penumpukan cairan di kaki sehingga menyebabkan pembengkakan kaki yang parah. Gejala ini sering kali disepelekan karena dianggap sebagai hal wajar dalam masa kehamilan.
  1. Nyeri Kepala
Nyeri kepala pada Preeklamsia hampir mirip dengan gejala migrain. Kepala terasa berdenyut sangat parah dan sulit hilang.
  1. Mual dan Muntah
Selain nyeri kepala, gejala Preeklamsia juga menyebabkan ibu hamil mengalami mual dan muntah hingga di pertengahan kehamilan. Kondisi ini berbeda dengan mual tanda kehamilan (Morning Sickness) yang hanya berlangsung selama trimester pertama.
  1. Nyeri Epigastrik
Nyeri epigastrik adalah nyeri yang terasa di area perut, tepatnya di bagian bawah tulang rusuk sisi kanan. Gejala ini sering kali disamakan dengan rasa mulas, gangguan pencernaan atau akibat tendangan bayi.
  1. Nyeri Bahu dan Punggung Bawah
Karakteristik nyeri bahu pada Preeklamsia adalah sensasi cubitan di sepanjang leher dan terkadang menyebabkan penderitanya merasa sakit saat berbaring di sisi kanan.
  1. Kenaikan Berat Badan Secara Drastis
Apabila ibu hamil mengalami kenaikan yang drastis, yaitu 3-5 kilogram hanya dalam waktu satu minggu, maka perlu diwaspadai adanya penumpukan cairan tubuh sebagai salah satu gejala preeklamsia. Pemeriksaan
  • Tes darah untuk memeriksa fungsi hati dan ginjal
  • Pengambilan sampel urine 24 jam untuk mendeteksi adanya protein dalam urine
  • USG (Ultrasonografi) untuk memeriksa pertumbuhan bayi dan volume cairan ketuban
  • USG Doppler untuk mengevaluasi aliran pembuluh darah pada plasenta
Ibu hamil dikatakan positif preeklamsia apabila tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg disertai dengan sejumlah kondisi berikut:
  • Ditemukan tanda-tanda kerusakan pada organ ginjal dan hati
  • Adanya penumpukan cairan di paru-paru
  • Adanya gejala neurologis, seperti nyeri kepala, pusing, dan Stroke
  • Mengalami gangguan penglihatan, misalnya seperti ada bintik-bintik ketika melihat sesuatu atau gangguan visus/tajam penglihatan
  • Jumlah trombosit rendah (Trombositopenia)
  • Gangguan pertumbuhan janin
Dampak Preeklamsia pada Ibu
  1. Ari-ari / plasenta lepas atau terputus saat bersalin
  2. Anemia (kurang darah)
  3. Pandangan kabur hingga buta (tidak bisa melihat sama sekali)
  4. Perdarahan pada hati, perdarahan saat melahirkan
  5. Kejang hingga stroke (jika muncul kejang disebut Eklampsia)
  6. Gagal jantung
  7. Tidak sadar/koma hingga kematian
  8. Cemas atau mudah khawatir
  9. Kualitas tidur menurun
  10. Stres dan mudah marah Gangguan psikologis ini secara tidak langsung dapat memperberat hipertensi dan gejala fisik lain pada ibu hamil dengan Preeklamsia
Dampak Preeklamsia pada bayi
  1. Berat janin kecil, lebih kecil dari janin pada kondisi normal
  2. Melahirkan sebelum waktunya (prematur)
  3. Janin meninggal dalam kandungan
Penanganan Salah satu pengobatan preeklamsia adalah mengakhiri kehamilan, namun tindakan ini hanya aman dilakukan apabila usia kehamilan sudah mencapai 37 minggu atau siap untuk dilahirkan. Selain itu, penanganan alternatif untuk pasien Preeklamsia adalah:
  • Penggunaan obat-obatan: Sejumlah obat yang biasanya diresepkan pada pasien preeklamsia adalah antihipertensi, kortikosteroid, dan anticonvulsan.
  • Perawatan di rumah sakit: Perawatan ini diperlukan apabila gejala yang dialami pasien cukup berat sehingga memerlukan pemantauan dokter sampai usia kehamilan aman.
  • Perawatan setelah melahirkan: Pasien akan diminta melakukan rawat inap selama beberapa hari setelah melahirkan dan perlu mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter serta melakukan kontrol rutin selama 6 minggu setelah melahirkan.
Pencegahan
  • Melakukan pemeriksaan rutin selama kehamilan
  • Menjaga berat badan ideal sebelum dan selama kehamilan
  • Tidak merokok ataupun mengonsumsi alkohol
  • Rutin berolahraga
  • Menjaga kadar gula darah normal apabila menderita Diabetes
  • Mengontrol tekanan darah tinggi
  • Mengurangi konsumsi makanan tinggi garam
Antusias peserta sangat baik serta ada umpan balik pertanyaan dari pasien kepada narasumber. Daftar pustaka
  • Manuaba (2002), Kapita selekta kedaruratan obstertri dan ginekologi. Jakarta : EGC
  • Mocthar (1998), Obstetri patologi dan operatif. Jakarta : EGC